Jumat, 06 Juni 2014

Pengalaman Andragogi dan Pedagogi

PENGALAMAN ANDRAGOGI DAN PEDAGOGI
By: Andrie Syahreza (131301096)

Seiring dengan berkembangnya dunia pendidikan,  tipe dalam pembelajaran juga ikut berkembang. Diantaranya adalah Andragogi dan Pedagogi. Sebelum saya bercerita tentang pengalaman saya akan Andragogi dan Pedagogi, ada baiknya saya jelaskan sedikit tentang hal tersebut.
Andragogi adalah teori belajar yang berfokus untuk orang dewasa, sedangkan Pedagogi adalah metode belajar pada kanak-kanak dimana orang dewasa berperan sebagai pembimbing. Pada andragogi, orang dewasa dituntut berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran, sedangkan pada pedagogi siswa bersifat pasif dan semua tergantung kepada guru.
Pengalaman saya pribadi pada andragogi, saya pernah mendapatkan pelatihan dalam training kerja. Diasana kami ada 15 org diberikan instruksi untuk menyelesaikan sebuah masalah, yaitu untuk menemukan sabun pembersih noda yang cocok dengan apa yang dibersihkannya. Kami diberikan clue warna dan bahasa, lalu kami memilih sabun pembersih noda yang dimaksud kemudian mencocokkannya dengan cara langsung menggunakan krim tersebut untuk membersihkan objek yang dim aksud. Awalnya saya sendiri tidak merasa kesusahan dengan training tersebut karena clue warna dan bahasanya cukup saya mengerti. Namun karene terus diusik oleh teman teman seperjuangan, saya merasa kesusahan dan kelabakan sendiri. Tapi semua dapat saya jalankan dengan baik dan lancar.
Setelah itu, saya berhasil melanjutkan ke training yang selanjutnya, yaitu tes menggoreng ayam, patty (daging burger) dan kentang goreng. Disitu saya dituntut untuk dapat menggoreng ayam sesuai dengan kematangan dan warna yang diinginkan oleh trainer. Clue yang diberikan hanya berupa gambar ayam goreng, patty dan kentang goreng yang sempurna warnanya yaitu Golden Brown namun dalamnya masih lembut dan empuk. Teknik menggoreng dan cara penyajian itu diserahkan sepenuhnya pada saya. Untungnya saya mengerti dasar dalam memasak sehingga saya tidak mendapatkan kesulitan yang berarti.
Selain itu, di bangku perkuliahan yang sedang saya jalani juga menggunakan metode Andragogi. Contohnya seperti presentasi materi kuliah, diskusi, dan Tanya jawab dosen dan mahasiswa. Tentunya itu bisa dilakukan dengan kemauan dan kemampuan sendiri, juga tidak tergantung kepada orang lain dan kita terbantu dengan pengalaman pengalaman yang kita miliki
Pengalaman saya pada pedagogi tentunya berkisar saat saya masih duduk di bangku SD hingga SMA. Di masa masa itu saya mendapatkan materi pelajaran semua dari guru. Kami sebagai murid hanya duduk diam mendengarkan guru menjelaskan didepan kelas sedangkan kami duduk diam menyimak. Sekali sekali guru juga mau bertanya pada murid uuntuk mencairkan suasana, namun biasanya murid enggan menjawab jika tidak tahu atau karena takut salah sehingga murid hanya bisa diam.  Karena biasanya jika kita salah dalam menjawab atau apapun itu, guru biasanya memberikan konsekuensi berupa hukuman atau marah. Seringkali juga guru memberikan hukuman fisik yang sudah tentu menyalahi aturan. Saya sendiri juga pernah merasakan hulkuman fisik tersebut hanya karena tidak mampu menjawab soal fisika yang terlampau sulit buat saya. Dalam pedagogi juga biasanya guru menuntut untuk bisa atau mampu dalam pelajaran yang diampunya. Jika semua guru menuntut begitu, tentu saya dan teman teman kesulitan karena harus menguasai 14 mata pelajaran sekaligus. Namun tentu itu semua tergantung guru yang mengajar apakah kompeten atau tidak, juga tergantung murid apakah ada kemauan belajar atau tidak. Segala sesuatu berasal dari diri sendiri dan didukung oleh sarana yang dapat menunjang proses belajar.
Sekian pengalaman saya semoga bermanfaat dan bisa menabah pengetahuan movie-men sekalian.
Salam moviement!

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya